Sampai saat ini saya belum pernah
merasakan menjadi orangtua. Namun ijinkan saya untuk menggambarkan sedikit seperti apa hubungan
yang terjalin antara orangtua dengan anaknya. Kalau boleh saya gambarkan kasih
sayang orang tua kepada anaknya ibarat madu. Manis, murni, mengobati, pekat, kental,
lengket, dan kemurniannya tidak
diragukan lagi. Yaah...sebuah penggambaran yang terlalu sederhana mungkin.
Manisnya kasih sayang orangtua selalu dapat kita rasakan di setiap kesempatan,
setiap waktu, setiap saat dalam perjalanan kehidupan kita semenjak kita kecil
sampai dengan kita dewasa bahkan barangkali sampai kita membangun keluarga
baru, menikah dan menjadi orangtua, manisnya kasih sayang orangtua kita masih
dapat kita nikmati. Kemurnian kasih sayangnya, layaknya kemurnian madu tidak
diragukan lagi. Manis dan murninya madu seperti kita tahu mampu mengobati
segala macam penyakit. Seperti itu pula manis dan murninya kasih sayang
orangtua mampu mengobati segala macam penyakit kehidupan dalam perjalanan hidup
seorang anak. Selain itu hubungan yang terjalin antara orangtua dengan anaknya pekat,
kental, lengket, dan itu akan berlangsung selamanya, tak terpisahkan.
Sementara itu seperti apa
gambaran hubungan dua orang anak manusia yang telah terikat dalam sebuah ikatan
perkawinan. Hubungan yang bermula dari dua orang yang tidak saling kenal,
kemudian coba-coba saling kenal, kemudian muncullah perasaan saling mencintai,
saling membutuhkan, ingin memiliki, ingin selalu ada jika kita membutuhkan,
bahkan ketika tidak ada muncullah rasa membutuhkan yang semakin tinggi seperti
candu dan perasaan-perasaan yang muncul makin lama makin memabukkan, bahkan
pada satu titik tertentu ketika orang yang kita butuhkan tidak ada pada saat
kita butuhkan muncullah perasaan sakaw
yang dapat menghancurkan seluruh kehidupan kita. Ibarat perokok dengan
rokoknya, pecinta kopi dengan secangkir kopinya, pada awalnya tidak kenal,
kemudian coba-coba, suka, kecanduan dan tergantung oleh zat-zat yang
dihasilkannya. Bahkan para pecandu tersebut tidak menghiraukan lagi bagaimana
cara memperoleh zat tersebut pada saat ia membutuhkan. Pecandu tidak
menghiraukan lagi sesungguhnya kenikmatan yang sedang dirasakannya pada satu
titik justru akan menghancurkannya.
Jadi Madu versus Candu? Jelas candu
tak berarti apa-apa dibanding madu.
Semoga kita bisa lebih bijak
ketika suatu saat kita diijinkan menjadi orangtua. Amiin

No comments:
Post a Comment