Serum Anti Bisa Ular
Anti bisa ular
terdapat dalam 2 sediaan, monovalen (efektif terhadap racun spesies ular
tertentu) dan polyvalent (efektif terhadap beberapa spesies ular). Anti bisa
ular sudah dimurnikan dengan beberapa proses namun masih mengandung protein
serum yang dapat bertindak sebagai antigen, sehingga beberapa individu dapat
bereaksi terhadap anti bisa ular dengan reaksi hipersensitivitas cepat
(anafilaksis) atau hipersensitivitas lambat (serum sickness). Meskipun
demikian, anti bisa ular harus tetap diberikan pada pasien gigitan ular yang
mengancam jiwa, efek samping dapat ditangani setelah efek bisa ular
dinetralkan.
Anti bisa ular diberikan ketika
seorang pasien terbukti atau diduga telah digigit ular dengan satu atau lebih
tanda berikut ini :
-
Keracunan sistemik
· Kelainan
hemostatik seperti : perdarahan sistemik spontan (klinis), koagulopati atau
trombositopenia (laboratoris).
· Tanda
neurotoxik : ptosis, opthalmoplegia eksternal, paralisis, dll.
· Kelainan
kardiovaskular : hipotensi, syok, aritmia kordis (klinis), kelainan EKG.
· Gagal
ginjal : oliguria/anuria (klinis), peningkatan ureum / kreatinin dalam darah
(laboratoris).
·
Hemoglobin/mioglobin-uria : dark brown urine (klinis), urin dipstik,
bukti lain adanya hemolisis intravaskular atau generalised rhabdomyolisis
(nyeri otot, hiperkalemia)
-
Keracunan lokal
· Bengkak
pada lebih dari separuh anggota tubuh yang digigit ular dalam waktu 48 jam
setelah digigit (tanpa dipasang torniket). Bengkak setelah gigitan pada jari.
· Bengkak
yang terjadi dengan cepat (contohnya : bengkak sudah melampaui pergelangan
tangan atau kaki dalam beberapa jam setelah digigit ular pada tangan atau
kaki).
· Adanya
pembesaran limphonodi disekitar anggota tubuh yang digigit ular.
Anti bisa ular harus diberikan secepatnya
setelah gejala atau tanda diatas ditemukan. Anti bisa ular akan menetralkan
efek bisa ular walaupun gigitan ular sudah terjadi beberapa hari yang lalu atau
pada kasus kelainan hemostatik, anti bisa ular masih dapat diberikan walaupun
sudah terjadi lebih dari 2 minggu. Tetapi beberapa bukti klinis menyebutkan
bahwa anti bisa ular efektif jika diberikan dalam beberapa jam setelah digigit
ular.
Lebih dari 10% pasien mengalami reaksi
hipersensitivitas terhadap anti bisa ular, reaksinya dapat trejadi secara cepat
(dalam beberapa jam) atau lambat (5 hari atau lebih). Resiko reaksi tergantung
dosis yang diberikan, kecuali pada kasus yang jarang, terjadi sensitisasi (Ig
E-mediated type I hypersensitivity) oleh serum hewan sebelumnya, contohnya
: Ig-tetanus, Ig-rabies.
-
Reaksi Anafilaksis
Terjadi dalam 10-180 menit setelah
pemberian anti bisa ular, gejalanya gatal, urtikaria, batuk kering, demam,
mual, muntah, diare dan takikardi. Sebagian kecil pasien akan mengalami reaksi
anafilaksis yang berat seperti hipotensi, bronkospasme dan angioedema.
-
Reaksi Pyrogenik (endotoksin)
Terjadi dalam 1-2 jam setelah pengobatan,
gejalanya berupa demam, vasodilatasi dan penurunan tekanan darah. Reaksi ini
disebabkan kontaminasi pirogen selama proses dipabrik.
-
Reaksi Lambat
Terjadi dalam 1-12 hari setelah
pengobatan, gejala klinisnya berupa demam, mual, muntah, diare, gatal,
urtikaria berulang, atralgia, mialgia, limpadenopati, proteinuria dengan nephritis
kompleks imun, dan encephalopati (jarang).
Epineprin (adrenalin) diberikan intra muskular (lateral paha atas)
dengan dosis awal 0,5mg untuk dewasa dan 0,01mg/kgBB untuk anak-anak. Adrenalin
harus segera diberikan setelah muncul gejala, dosis dapat diulang setiap 5-10
menit jika kondisi tidak membaik.
Pengobatan tambahan berupa antihistamin, anti-H1 blocker seperti
klorphenamin maleat (dewasa 10mg, anak-anak 0,2mg/kgBB IV dalam beberapa menit)
harus diberikan dengan hidrokortison (dewasa 100mg, anak-anak 2mg/kgBB). Pada
reaksi pirogen dapat diberikan anti piretik (contohnya parasetamol oral atau
supp). Cairan intravena harus diberikan untuk mengatasi hipovolemia.
-
Reaksi lambat (serum sickness)
Anti histamin oral diberikan selama 5 hari,
jika tidak ada respon dalam 24-48 jam berikan prednisolon selama 5 hari.
Dosis :
chlorphenamine : dewasa 2mg/6 jam, anak-anak 0,25mg/kg/hari
Prednisolone : dewasa 5mg/6 jam, anak-anak 0,7mg/kg/hari
Senyawa
kimia immunoglobulin anti-bisa ular polovalen juga dapat mengatasi bisa ular.
Vaksin pasif ini digunakan untuk mengobati gigitan ular berbisa, yang berefek
neurotoksis dan hemolitis. Serum polivalen ini yang dimurnikan dan dipekatkan
berasal dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap bisa ular. Ular yang
kebanyakan terdapat di Indonesia adalah ular kobra (Naya sputatrix), ular belang (Bungarus
fasciatus) dan ular tanah (Ankystrodon
rhodostoma). Dosis: i.v. sangat perlahan atau melalui infus (Tjay, 2007).
Kesimpulan
- Bisa ular secara garis besar dapat kita kategorikan dalam dua jenis, yaitu neurotoxin dan hemotoxin.
- Terdapat berbagai macam cara penanganan terhadap gigitan ular dan bisa ular yang telah dijelaskan dalam papper ini. Serum Anti Bisa Ular (Snake Anti Venom) merupakan produk biologis yang digunakan dalam pengobatan gigitan ular berbisa. Anti bisa ular terdapat dalam 2 sediaan, monovalen (efektif terhadap racun spesies ular tertentu) dan polyvalent (efektif terhadap beberapa spesies ular). Anti bisa ular diberikan ketika seorang pasien terbukti atau diduga telah digigit ular dengan adanya tanda keracunan sistemik maupun lokal.
DAFTAR PUSTAKA
-
Tika Pratiwi,dkk, 2011, MAKALAH
TOKSIKOLOGI, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Farmasi,
Universitas Jenderal Soedirman.
-
Anonim, 2002, Pedoman Pertolongan
Keracunan untuk Puskesmas, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
-
Anonim, 2005, Guidelines for the
Clinical Management of Snakes bites in the South-East Asia, Region, World
Health Organization.
-
Boswick, John A. 1988. Perawatan Gawat Darurat. EGC : Jakarta.
-
Kathleen S. Oman, et all. 2002. Panduan Belajar Keperawatan Emergensi. EGC
: Jakarta.
-
Racheedus. 2010. http://racheedus.wordpress.com/2010/03/31/tips-mengobati-gigitan-ular/.
Diakses tanggal 16 Desember 2011.
-
Snake Venom: The Pain and Potential of
Poison, The Cold Blooded News Vol. 28, Number 3, March, 2001.
-
Tjay, Tan Hoan. 2007. Obat-Obat Penting
Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. PT Elex Media Komputindo.
Jakarta.
-
Theakston RD, Warrell DA,
Griffiths E (April, 2003), “Report of a WHO workshop on the standardization
and control of anti venoms”. Toxicon 41(5) : 541-57.
-
Warrell DA, (2010), “Guidelines
for the management of snake-bites”. Indraprastha Estate, mahatma Gandhi
marg. New Delhi, 77-89.
-
Wijaya,
Rudi. 2009. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/alternativmedicine/1950680-manfaat-ular-dari-sudut-medis/. Diakses pada tanggal 17 Desember 2011.
-
WHO, (2010), “WHO guidelines
for the production control and regulation of snake anti venom immunoglobulins”.
Avenue appia CH-1211 Geneva 27, Switzerland, www.who.int/bloodproducts/snakeantivenoms

No comments:
Post a Comment