Bagaimana Mengenali Ular Berbisa?
Tidak
ada cara sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa. Beberapa spesies ular
tidak berbisa dapat tampak menyerupai ular berbisa. Namun, beberapa ular
berbisa dapat dikenali melalui ukuran, bentuk, warna, kebiasaan dan suara yang
dikeluarkan saat merasa terancam. Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk
kepala segitiga, ukuran gigi taring kecil, dan pada luka bekas gigitan terdapat
bekas taring.
Gambar
2. Bekas gigitanan ular. (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring, (B) Ular
berbisa
dengan
bekas taring
Sifat Bisa, Gejala, dan Tanda
Gigitan Ular
Berdasarkan
sifatnya pada tubuh mangsa, bisa ular dapat dibedakan menjadi bisa hemotoksik,
yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem pembuluh darah; bisa neurotoksik,
yaitu bisa yang mempengaruhi sistem saraf dan otak; dan bisa sitotoksik, yaitu
bisa yang hanya bekerja pada lokasi gigitan. Tidak semua ular berbisa pada
waktu menggigit menginjeksikan bisa pada korbannya. Orang yang digigit ular,
meskipun tidak ada bisa yang diinjeksikan ke tubuhnya dapat menjadi panik,
nafas menjadi cepat, tangan dan kaki menjadi kaku, dan kepala menjadi pening.
Gejala dan tanda-tanda gigitan ular akan bervariasi sesuai spesies ular yang
menggigit dan banyaknya bisa yang diinjeksikan pada korban. Gejala dan tanda-tanda
tersebut antara lain adalah tanda gigitan taring (fang marks), nyeri
lokal, pendarahan lokal, memar, pembengkakan kelenjar getah bening, radang,
melepuh, infeksi lokal, dan nekrosis jaringan (terutama akibat gigitan ular
dari famili Viperidae).
Penatalaksanaan Keracunan Akibat
Gigitan Ular
Langkah-langkah
yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular adalah:
1.
Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan ular
sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan oleh korban
sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. Tujuan pertolongan pertama
adalah untuk menghambat penyerapan bisa, mempertahankan hidup korban dan
menghindari komplikasi sebelum mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta
mengawasi gejala dini yang membahayakan. Kemudian segera bawa korban ke tempat
perawatan medis.
Metode pertolongan yang dilakukan
adalah menenangkan korban yang cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak)
bagian tubuh yang tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar
tidak terjadi kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi otot dapat
meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening;
pertimbangkan pressure-immobilisation pada gigitan Elapidae; hindari
gangguan terhadap luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa dan
menimbulkan pendarahan lokal.
2.
Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara yang aman dan
senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot untuk mencegah peningkatan
penyerapan bisa.
3.
Pengobatan gigitan ular
Pada
umumnya terjadi salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular. Metode penggunaan
torniket (diikat dengan keras sehingga menghambat peredaran darah), insisi
(pengirisan dengan alat tajam), pengisapan tempat gigitan, pendinginan daerah yang
digigit, pemberian antihistamin dan kortikosteroid harus dihindari karena tidak
terbukti manfaatnya.
4.
Terapi yang dianjurkan meliputi:
a.
Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril.
Gambar
3. Imobilisasi bagian tubuh menggunakan perban.
b.
Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katun elastis dengan
lebar
+ 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan kuat di sekeliling bagian tubuh yang
tergigit, mulai dari ujung jari kaki sampai bagian yang terdekat dengan gigitan.
Bungkus rapat dengan perban seperti membungkus kaki yang terkilir, tetapi
ikatan jangan terlalu kencang agar aliran darah tidak terganggu. Penggunaan
torniket tidak dianjurkan karena dapat mengganggu aliran darah dan pelepasan
torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang lebih berat.
c.
Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi penatalaksanaan
jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan; penatalaksanaan sirkulasi;
penatalaksanaan resusitasi perlu dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa
hipotensi berat dan shock, shock perdarahan, kelumpuhan saraf
pernafasan, kondisi yang tiba-tiba memburuk akibat terlepasnya penekanan
perban, hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka, serta kerusakan ginjal dan
komplikasi nekrosis lokal.
d.
Pemberian suntikan antitetanus, atau bila korban pernah mendapatkan toksoid maka
diberikan satu dosis toksoid tetanus.
e.
Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara intramuskular.
f.
Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut cepat mati/panik.
g.
Pemberian serum antibisa. Karena bisa ular sebagian besar terdiri atas protein,
maka sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat dari serum kuda. Di Indonesia,
antibisa bersifat polivalen, yang mengandung antibodi terhadap beberapa bisa
ular. Serum antibisa ini hanya diindikasikan bila terdapat kerusakan jaringan
lokal yang luas.
Penanganan
Terhadap Gigitan Ular
Tindakan Pertama pada Gigitan Ular
1. Luka dicuci dengan air bersih atau dengan larutan kalium
permanganat untuk menghilangkan atau menetralisir bisa ular yang belum
teradsorpsi.
2. Insisi atau eksisi luka tidak dianjurkan, kecuali apabila
gigitan ular baru terjadi beberapa menit sebelumnya.
Insisi luka yang dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa atau
dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman, justru sering merusak
jaringan di bawah kulit dan akan meninggalkan parut luka yang cukup besar.
3. Anggota badan yang digigit secepatnya diikat untuk menghambat
penyebaran racun.
4. Lakukan kemudian imobilisasi anggota badan yang digigit
dengan cara memasang bidai karena gerakan otot dapat mempercepat penyebaran
racun.
5. Bila mungkin anggota badan yang digigit didinginkan dengan
es batu.
6. Penderita dilarang bergerak dan apabila perlu dapat diberi
analgetika atau sedativa.
7. Penderita secepatnya harus dibawa ke dokter atau rumah
sakit yang terdekat untuk menerima perawatan selanjutnya.
Ada beberapa cara untuk mengobati gigitan ular, tergantung tingkat
parah atau tidaknya gigitan.
1. Ambil sesendok minyak tanah dan sesendok minyak goreng, lantas suruh korban
meminumnya. Minyak tanah dan minyak goreng berfungsi untuk menjadi tameng bagi
jantung dan organ-organ penting dalam tubuh dari serangan racun bisa ular.
Racun bisa tidak akan mampu menyerang jika tubuh diberi kedua cairan tersebut.
2. Ambil segenggam garam dan masukkan ke
dalam air dalam sebuah gelas besar. Aduk air garam tersebut secukupnya. Buang
ampas garam yang mengendap di dasar gelas. Terus air garam tersebut diminumkan
kepada sang korban. Seperti halnya minyak tanah dan minyak goreng, air garam
juga berfungsi sebagai anti toxin yang bisa melindungi jantung dan organ vital
dari serangan racun bisa ular.
3. Jika korban digigit pada jam-jam
berbahaya yang sudah dijelaskan di atas, maka cara yang cukup ampuh adalah
dengan cara setrum. Dengan menggunakan accu kecil yang tidak berdaya listrik
tinggi, tempelkan saja kabel negatif (-) dan positif (+) ke bekas gigitan.
Awas, jangan sampai daerah yang bukan gigitan ikut tersetrum. Saat proses
setrum berlangsung dan racun bisa disedot oleh listrik, sang korban tidak akan
mengalami rasa sakit, paling akan merasa sedikit hangat. Jika bisa sudah habis
disedot oleh listrik, korban pun akan merasa kesakitan. Saat itulah, proses
setrum dihentikan segera agar tidak membahayakan korban.
4. Jika gigitan sudah terjadi lama dan sudah
menimbulkan borok, maka cara yang digunakan adalah dengan proses pembakaran.
Ambil tanah liat basah dan tempelkan ke daerah sekeliling bekas gigitan. Hal
ini untuk melindungi daerah yang tidak terkena gigitan ular. Jika sekeliling
daerah gigitan sudah terlindungi oleh tanah liat, baru kemudian dilakukan
proses pembakaran. Ambil bara api secukupnya dan letakkan ke daerah gigitan. Jika
bara api padam, nyalakan kembali. Saat racun bisa belum tuntas disedot oleh
api, korban tidak akan mengalami rasa sakit atau panas. Namun jika sudah mulai
terasa proses penyedotan berlangsung, korban akan mulai mengalami rasa hangat.
Ketika racun bisa sudah habis tersedot, korban pun akan langsung merasa
kepanasan. Saat itulah, proses pembakaran dihentikan.
Terkadang cara pembakaran
ini harus memakan waktu dua hari. Hal itu terjadi karena gigitan yang sudah
cukup lama, sehingga proses penyedotan tidak langsung selesai satu kali. Jadi,
hari pertama dilakukan proses pembakaran. Keesokan harinya, hal pembakaran
dilakukan kembali, sampai pasien betul-betul merasakan sakit sebagai pertanda
bahwa racun bisa sudah habis tuntas disedot.
Bersambung...