Sumber : http://ilmukeperawatan.wordpress.com
Kulit merupakan
organ terbesar dalam tubuh. Kulit juga mempunyai peranan yang sangat penting
yang dapat menjaga kita agar tetap sehat. Peranan kulit terpenting antara lain
yaitu sebagai pengatur suhu tubuh dan bertindak sebagai pelindung. Kulit juga
bertindak sebagai system alarm tubuh ketika menerima rangsang panas, dingin
ataupun nyeri. Pada kondisi tubuh yang optimal, jaringan kulit dapat memulihkan
luka secara efisien dengan membentuk jaringan kembali.
Banyak cara
yang telah dikembangkan untuk membantu penyembuhan luka, seperti dengan menjahit
luka, menggunakan antiseptic dosis tinggi, dan juga pembalutan dengan
menggunakan bahan yang menyerap. Namun, ketika diteliti lebih lanjut, ternyata
cara penyembuhan seperti ini sama sekali tidak membantu bahkan berisiko
memperburuk luka.
Dalam kehidupan
sehari-hari, biasanya kita akan menggunakan antiseptic pada luka dengan tujuan
menjaga luka tersebut agar menjadi ‘steril’. Bahkan antiseptic seperti hydrogen
peroxide, povidone iodine, acetic acid, dan chlorohexadine selalu tersedia di
kotak obat. Sekarang perlu diketahui, bahwa antiseptik-antiseptik seperti itu
dapat mengganggu proses penyembuhan dari tubuh kita sendiri.
Masalah utama
yang timbul adalah antiseptic tersebut tidak hanya membunuh kuman-kuman yang
ada, tapi juga membunuh leukosit yaitu sel darah yang dapat membunuh bakteri
pathogen dan jaringan fibroblast yang membentuk jaringan kulit baru. Sehingga
untuk membersihkan luka, cara yang terbaik adalah dengan membersihkannya dengan
menggunakan cairan saline dan untuk luka yang sangat kotor dapat digunakan
‘water-presure’. Untuk perawatan di rumah, dapat menggunakan air yang mengalir
atau menggunakan shower.
Demikian pula
dengan penggunaan balutan. Zaman dahulu orang percaya bahwa membiarkan luka
dalam kondisi bersih dan kering akan mempercepat proses penyembuhan. Sehingga,
pada zaman dahulu luka dibalut dengan menggunakan kain pembalut yang tipis yang
memungkinkan udara masuk dan membiarkan luka mengering hingga berbentuk ‘koreng’.
Namun seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pertanyaan tersebut dibantah.
Pengatahuan sekarang telah membuktikan bahwa luka dalam kondisi kering dapat
memperlambat proses penyembuhan dan akan menimbulkan bekas luka.
Balutan dalam
kondisi lembab atau sedikit basah merupakan cara yang paling efektif untuk
menyembuhkan luka. Balutan tersebut tidak menghambat aliran oksigen, nitrogen
dan zat-zat udara yang lain. Kondisi yang demikian merupakan lingkungan yang
baik untuk sel-sel tubuh tetap hidup dan melakukan replikasi secara optimum,
karena pada dasarnya sel dapat di lingkungan yang lembab atau basah. Kecuali
sel kuku dan rambut, sel-sel tersebut merupakan sel mati.
Pengetahuan
dahulu menyatakan bahwa ‘scab’ atau bekas luka yang mengering atau ‘koreng’
merupakan penghalang alami untuk mencegah hilangnya kelembaban. ‘scab’ juga
mencegah sel-sel baru untuk berkolonisasi di area luka. Ketika ‘scab’ tersebut
mulai berubah bentuk, sel epidermis harus masuk ke lapisan dermis yang paling
dalam sebelum melakukan proliferasi, karena disanalah daerah yang lembab
sehingga sel dapat hidup. Dan dari proses itu kita dapat mengetahui bahwa dalam
lingkungan kering, luka akan memulih dari dalam ke luar. Sedangkan, bila kita
dapat mengoptimalkan lingkungan yang lembab pada luka, proses penyembuhan akan
berlangsung dari daerah pinggir/sekitar dan dari dalam secara serempak.
Namun,
penyembuhan dengan menggunakan lingkungan yang lembab masih menjadi hal yang
baru dan jarang diaplikasikan di masyarkat. Masyarakat kebanyakan berpendapat
bahwa lingkungan yang lembab akan menjadi tempat berkembangbiaknya kuman
penyakit. Akan tetapi pernyataan ini tidak disertai dengan kenyataan bahwa
tubuh kita mempunyai system imun yang sangat efisien. Segala jenis luka dengan
berbagai tingkat kesterilannya memang merupakan bentuk kolonisasi dari bakteri,
tapi koloni bakteri tersebut selama masih dalam jumlah yang wajar tidak
menimbulkan risiko infeksi. Masalah akan timbul jika bakteri tersebut
mulai melipatgandakan koloninya. Jika tubuh kita dalam kondisi yang normal,
maka antibody dalam tubuh akan dapat mencegah bakteri untuk tidak bermitosis.
Klien dengan
luka biasanya akan lebih jarang mengeluhkan rasa nyeri atau sakit yang
dirasakan ketika luka dibiarkan dalam lingkungan yang lembab yaitu dengan
pembalutan yang lembab. Balutan tersebut akan menjaga saraf dari lingkungan
luar dengan memberikan lingkungan yang lembab, sehingga dapat mengurangi rasa
nyeri. Jika dengan balutan yang kering, dikhawatirkan saraf akan mudah
mengalami risiko kerusakan selama berproliferasi.
Cara-cara
merawat luka:
- Usahakan
agar luka tetap bersih selama proses penyembuhan. Bersihkan luka dengan
larutan saline sollution: larutkan dua sendok teh garam ke dalam
air panas, lalu biarkan dingin.
- Gunakan
antiseptic yang alamiah. Dapat menggunakan Echinacea angustifolia,
calendula, daun teh dan lavender.
- Perbanyak
intake protein dalam tubuh ketika sedang terluka. Terutama pasca operasi,
kebutuhan kalori dan protein dalam tubuh akan meningkat 20-50 persen.
- Perbanyak
intake berbagai vitamin dan zat lainnya:
- o Vitamin
A untuk membantu pembentukan jaringan yang luka
- o Vitamin
B1 untuk mensintesis kolagen
- o Vitamin
B5 untuk mempercepat proses penyembuhan
- o Vitamin
C untuk mempercepat pembentukan kolagen dan elastin, juga untuk
mempercepat pertumbuhan
- o Vitamin
E untuk membantu menghilangkan bekas luka
- o Zn untuk
menstimulasi proses penyembuhan luka
- o Lemak
essensial untuk memnyempurnakan proses penyembuhan luka
- Gunakan
madu untuk menyembuhkan luka. Madu mengandung enzim-enzim dan zat
anti-viral, dapat mempercepat penyembuhan luka, dan menurunkan risiko
infeksi lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan balutan sintetik
semi-oklusif. Madu juga dapat mempercepat pertumbuhan sel-sel yang baru.
Selain beberapa
pengobatan-pengobatan yang telah disebutkan diatas, ada juga metode penyembuhan
luka yang juga dianjurkan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu
terapi tekan. Terapi ini lebih dipergunakan untuk klien dengan luka pada kaki
yang mana saraf pada kaki pun ikut terganggu. Terapi ini sangat efektif untuk
membantu proses penyembuhan dan dapat mencegah risiko terjadinya luka ini
kembali.
Metode terapi
tekan ini biasanya menggunakan balutan non elastis, dua atau empat lapis balut
tekan, dan pembalut yang pendek dan lentur. Balut tekan terdapat mermacam-macam
cara, namun tetap dapat memberikan tekanan secara permanent atau terus-menerus.
Hal ini disebabkan adanya perbedaan struktur dan kandungan dari serabut
elastometric.
Balut tekan
berguna untuk manajemen luka saraf. Balutan ini sangat mudah digunakan
ketika kita ingin mengganti balutan yang lama. Balutan ini harus sering
diganti, dengan tujuan untuk mengurangi pembengkakkan. Pembalut ini sangat
elastis, sehingga dapat mengukur seberapa bengkak luka yang ada. Kekuatan
tekanan yang dihasilkan merupakan interaksi dari beberapa prinsip, yaitu:
- § Struktur
fisik dan ‘elastomeric properties’ pembalut tersebut.
- § Ukuran
dan bentuk dari tubuh ketika balutan itu sedang digunakan.
- § Teknik
dan keterampilan yang memasang balutan tersebut.
- §
Aktivitas sehari-hari yang dilakukan klien.
Jika luka sudah
membaik atau sembuh, disarankan agar balut tekan tetap digunakan dengan tujuan
untuk mengontrol risiko pembengkakkan, memperbaiki system saraf dan mencegah
risiko terjadinya luka ini kembali.
Sebelum kita
melakukan intervensi terhadap luka, ada baiknya kita melakukan pengkajian
terlebih dahulu. Melakukan pengkajian luka secara komprehensif pada klien yang
tepat merupakan komponen penting dalam manajemen luka. Kemampuan untuk
melakukan pengkajian luka tersebut membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan
pengalaman yang cukup. Perencanaan perawatan luka sangat dibutuhkan namun dalam
perencanaan tersebut dibutuhkan juga keterangan-keterangan atau fakta dari
hasil evaluasi rencana tersebut. Pedoman parameter untuk perawatan luka juga
harus di masukkan dalam perencanaan tersebut, meliputi juga klasifikasi dari
luka itu sendiri, penampilan luka, cairan yang keluar dari luka, rasa nyeri
yang timbul dan kondisi kulit sekitar luka. Manajemen perawatan luka pada klien
akan meningkat kualitasnya dengan komunikasi yang baik dan juga dengan
dokumentasi yang efektif.

No comments:
Post a Comment