a. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah :
1. Pasting (tungku).
2. Wajan (wadah).
3. Cetakan.
4. Kain pemeras.
5. Timbangan.
6. Mesin penggiling kedelai.
7. Sekam (bahan bakar).
b. Bahan
Bahan yang diperlukan adalah :
1. Kedelai.
2. Air.
Proses pembuatan tahu
1. Menyiapkan kedelai mentah.
2. Merendam kedelai selama 3-4 jam (diturunkan
kekeranjang dengan berat 6-7 kg).
3. Meniriskan kedelai.
4. Memasukkan kedelai ke dalam mesin penggiling.
5. Setelah kedelai berubah menjadi santan, baru
merebusnya selama 25 menit (perebusan bahan baku tahu dilakukan di tungku
dengan menggunakkan bahan bakar sekam, hal ini bertujuan agar tidak dihasilkan
limbah).
6. Santan yang sudah direbus kemudian disaring agar
cairan dan ampas terpisah (ampas digunakan untuk pakan ternak).
7. Mendiamkan cairan sampai patinya mengendap.
8. Mengambil semua air yang terendap, sehingga hanya
tersisa sari patinya.
9. Mengepress atau mencetak sari pati kedelai.
10. Memotong tahu menjadi beberapa bagian dan merendamnya
di dalam air bersih sebelum dilakukan pengemasan.
Kacang-kacangan
dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro,
kelapa dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati
yang sangat penting peranannya dalam kehidupan. Asam amino yang terkandung
dalam proteinnya tidak selengkap protein hewani, namun penambahan bahan lain
seperti wijen, jagung atau menir adalah sangat baik untuk menjaga keseimbangan
asam amino tersebut. Kacang-kacangan dan umbi-umbian cepat sekali terkena jamur
(aflatoksin) sehingga mudah menjadi layu dan busuk. Untuk mengatasi masalah
ini, bahan tersebut perlu diawetkan. Hasil olahannya dapat berupa makanan
seperti keripik, tahu dan tempe, serta minuman seperti bubuk dan susu kedelai.
Kedelai mengandung protein 35 % bahkan pada varitas unggul kadar proteinnya
dapat mencapai 40 - 43 %. Dibandingkan dengan beras, jagung, tepung singkong,
kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur ayam, kedelai mempunyai kandungan
protein yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering.
Bila
seseorang tidak boleh atau tidak dapat makan daging atau sumber protein hewani
lainnya, kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan
makanan yang berasal dari 157,14 gram kedelai
Dasar
pembuatan tahu adalah melarutkan protein yang terkandung dalam kedelai dengan
menggunakan air sebaagai pelarutnya. Setelah protein tersebut larut, diusahakan
untuk diendapkan kembali dengan penambahan bahan pengendap sampai terbentuk
gumpalan-gumpalan protein yang akan menjadi tahu
Tahu merupakan salah satu makanan tradisional yang
populer. Selain rasanya enak, harganya murah dan nilai gizinya pun tinggi. Bahan makanan
ini diolah dari kacang kedelai. Meskipun berharga murah dan bentuknya sederhana,
ternyata tahu mempunyai mutu yang istimewa dilihat dari segi gizi. Hasil-hasil
studi menunjukkan bahwa tahu kaya protein bermutu tinggi, tinggi sifat
komplementasi proteinnya, ideal untuk makanan diet, rendah kandungan lemak
jenuh dan bebas kholesterol, kaya mineral dan vitamin.
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan
tahu adalah:
- Kedelai
Kedelai merupakan bahan utama dalam pembuatan
tahu.Kedelai yang digunakan adalah kedelai jenis Bola I.
- Air
Hampir semua tahapan dalam pembuatan tahu membutuhkan
air dari proses perendaman, pencucian, penggilingan, pemasakan, dan perendaman
tahu yang sudah jadi sehingga dibutuhkan air dalam jumlah banyak. Air yang
digunakan di berasal dari air tanah atau air artesis.
- Asam Cuka atau Cairan Sisa
Asam Cuka berfungsi untuk mengedapkan atau memisahkan
air dengan konsentrat tahu. Asam cuka mengandung cuka dan garam sehingga
bersifat asam. Asam cuka yang digunakan diperoleh dari pabrik tahu lain dan
dapat digunakan secara berulang-ulang. Selain menggunakan asam cuka buatan
pabrik bias juga menggunakan cairan
sisa pembuatan tahu yang difermentasi selam 24jam.
Proses pembuatan tahu terdiri beberapa tahap
yaitu:
1.
Perendaman
Pada tahapan perendaman ini, kedelai
direndam dalam sebuah bak perendam yang dibuat dari semen. Langkah pertama
adalah memasukan kedelai ke dalam karung plastik kemudian diikat dan direndam
selama kurang lebih 3 jam (untuk 1 karung berisi 15 kg biji kedelai). Jumlah
air yang dibutuhkan tergantung dari jumlah kedelai, intinya kedelai harus
terendam semua. Tujuan dari tahapan perendaman ini adalah untuk mempermudah
proses penggilingan sehingga dihasilkan bubur kedelai yang kental. Selain itu,
perendaman juga dapat membantu mengurangi jumlah zat antigizi (Antitripsin) yang
ada pada kedelai.Zat antigizi yang ada dalam kedelai ini dapat mengurangi daya
cerna protein pada produk tahu sehingga perlu diturunkan kadarnya.
2.
Pencucian kedelai
Proses pencucian merupakan proses
lanjutan setelah perendaman. Sebelum dilakukan proses pencucian, kedelai yang
di dalam karung dikeluarkan dari bak pencucian, dibuka, dan dimasukan ke dalam
ember-ember plastik untuk kemudian dicuci dengan air mengalir. Tujuan dari
tahapan pencucian ini adalah membersihkan biji-biji kedelai dari kotoran-kotoran
supaya tidak mengganggu proses penggilingan dan agar kotoran-kotoran tidak
tercampur ke dalam adonan tahu. Setelah selesai proses pencucian, kedelai
ditiriskan dalam saringan bambu berukuran besar.
3.
Penggilingan
Proses penggilingan dilakukan dengan
menggunakan mesin penggiling biji kedelai dengan tenaga penggerak dari motor
lisrik. Tujuan penggilingan yaitu untuk memperoleh bubur kedelai yang kemudian
dimasak sampai mendidih. Saat proses penggilingan sebaiknya dialiri air untuk
didapatkan kekentalan bubur yang diinginkan.
4.
Perebusan/Pemasakan
Proses perebusan ini dilakukan di
sebuah bak berbentuk bundar yang dibuat dari semen yang di bagian bawahnya
terdapat pemanas uap. Uap panas berasal dari ketel uap yang ada di bagian
belakang lokasi proses pembuatan tahu yang dialirkan melalui pipa besi. Bahan
bakar yang digunakan sebagai sumber panas adalah kayu bakar yang diperoleh dari
sisa-sisa pembangunan rumah. Tujuan perebusan adalah untuk mendenaturasi
protein dari kedelai sehingga protein mudah terkoagulasi saat penambahan asam. Titik akhir
perebusan ditandai dengan timbulnya gelembung-gelembung panas dan mengentalnya
larutan /bubur kedelai. Kapasitas bak perebusan adalah sekitar 7.5 kg
kedelai.
5.
Penyaringan
Setelah bubur kedelai direbus dan
mengental, dilakukan proses penyaringan dengan menggunakan kain saring. Tujuan
dari proses penyaringan ini adalah memisahkan antara ampas atau limbah padat
dari bubur kedelai dengan filtrat yang diinginkan. Pada proses penyaringan ini
bubur kedelai yang telah mendidih dan sedikit mengental, selanjutnya dialirkan
melalui kran yang ada di bagian bawah bak pemanas. Bubur tersebut dialirkan
melewati kain saring yang ada diatas bak penampung.
Setelah seluruh bubur yang ada di bak pemanas habis lalu dimulai
proses penyaringan. Saat penyaringan secara terus-menerus dilakukan penambahan
air dengan cara menuangkan pada bagian tepi saringan agar tidak ada padatan
yang tersisa di saringan. Penuangan air diakhiri ketika filtrat yang dihasilkan
sudah mencukupi.Kemudian saringan yang berisi ampas diperas sampai benar-benar
kering. Ampas hasil penyaringan disebut ampas yang kering, ampas tersebut
dipindahkan ke dalam karung. Ampas tersebut dimanfaatkan untuk makanan ternak
ataupun dijual untuk bahan dasar pembuatan tempe gembus/bongkrek.
6.
Pengendapan dan Penambahan Asam
Cuka
Dari proses penyaringan diperoleh
filtrat putih seperti susu yang kemudian akan diproses lebih lanjut. Filtrat
yang didapat kemudian ditambahkan asam cuka dalam jumlah tertentu.Fungsi
penambahan asam cuka adalah mengendapkan dan menggumpalkan protein tahu
sehingga terjadi pemisahan antara whey dengan gumpalan tahu.Setelah
ditambahkan asam cuka terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas (whey)
dan lapisan bawah (filtrat/endapan tahu).Endapan tersebut terjadi karena adanya
koagulasi protein yang disebabkan adanya reaksi antara protein dan asam yang
ditambahkan. Endapan tersebut yang merupakan bahan utama yang akan dicetak
menjadi tahu. Lapisan atas (whey) yang berupa limbah cair merupakan
bahan dasar yang akan diolah menjadi Nata De Soya.
7.
Pencetakan dan Pengepresan
Proses pencetakan dan pengepresan
merupakan tahap akhir pembuatan tahu. Cetakan yang digunakan adalah terbuat
dari kayu berukuran 70x70cm yang diberi lubang berukuran kecil di
sekelilingnya. Lubang tersebut bertujuan untuk memudahkan air keluar saat
proses pengepresan. Sebelum proses pencetakan yang harus dilakukan adalah
memasang kain saring tipis di permukaan cetakan. Setelah itu, endapan yang
telah dihasilkan pada tahap sebelumnya dipindahkan dengan menggunakan alat
semacam wajan secara pelan-pelan. Selanjutnya kain saring ditutup rapat dan
kemudian diletakkan kayu yang berukuran hampir sama dengan cetakan di bagian
atasnya. Setelah itu, bagian atas cetakan diberi beban untuk membantu
mempercepat proses pengepresan tahu. Waktu untuk proses pengepresan ini tidak
ditentukan secara tepat, pemilik mitra hanya memperkirakan dan membuka kain
saring pada waktu tertentu. Pemilik mempunyai parameter bahwa tahu siap
dikeluarkan dari cetakan apabila tahu tersebut sudah cukup keras dan tidak
hancur bila digoyang.
8. Pemotongan tahu
Setelah proses pencetakan selesai,
tahu yang sudah jadi dikeluarkan dari cetakan dengan cara membalik cetakan dan
kemudian membuka kain saring yang melapisi tahu. Setelah itu tahu dipindahkan
ke dalam bak yang berisi air agar tahu tidak hancur.Sebelum siap dipasarkan
tahu terlebih dahulu dipotong sesuai ukuran.Pemotongan dilakukan di dalam air
dan dilakukan secara cepat agar tahu tidak hancur.

No comments:
Post a Comment