(Bagian kedua)
Bersambung...
B. Perkembangan
Nasionalisme Indonesia
Semenjak ide-ide perubahan dan nasionalisme mulai masuk ke
Indonesia, ada perubahan di dalam menghadapi kolonialisme dan imperialisme
Barat. Perubahan itu antara lain mencakup strategi, pemimpin pergerakan, dan
cakupan wilayah gerakan. Perlawanan terhadap kolonialisme tidak lagi ditempuh
melalui perjuangan bersenjata tetapi menggunakan organisasi atau perkumpulan
yang dipimpin oleh kelompok bangsawan terpelajar dengan cakupan wilayah yang
lintas etnis dan budaya. Salah satu faktor yang mampu mempersatukannya adalah
adanya kesadaran nasional.
Kesadaran itu mulai bangkit setelah periode politik etis
diterapkan di Indonesia. Periode ini ditandai oleh munculnya priayi baru yang
menempatkan pendidikan sebagai kunci perubahan masyarakat. Oleh karena itu, tidak
aneh apabila banyak organisasi pergerakan yang menempatkan pendidikan sebagai
tujuan gerakan. Berikut adalah gerakan yang muncul setelah kesadaran nasional
mulai muncul di Indonesia.
1. Budi Utomo
Politik etis yang
diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda membawa dampak munculnya priyayi
Jawa yang “baru” atau priyayi rendahan, mereka memiliki pandangan bahwa kunci
dari kemajuan adalah pendidikan.kelompok inilah yang kemudian dianggap sebagai
kelompok pembentuk organisasi pergerakan yang benar-benar modern.
Dilatarbelakangi kondisi ekonomi yang buruk di Jawa, Dr.
Wahidin Sudiro Husodo pada tahun 1906-1907 berkeliling pulau jawa, untuk
memberikan penerangan tentang cita-citanya kepada para pegawai Belanda dan
dalam berusaha mencari dana untuk beasiswa bagi pelajar Indonesia yang kurang
mampu tapi cakap, Dr. Wahidin berkeinginan untuk mendirikan badan pendidikan
yang di sebut Studifonds. Usaha dr. Wahidin tidak mendapatkan tanggapan yang
positif dari pegawai pemerintahan Belanda. Namun usahanya mendapat respon dari
para pelajar. Usaha beliaulah yang merupakan pendorong bagi pelajar, untuk
mendirikan organisasi.
Organisasi Budi Utomo berdiri tanggal 20 Mei 1908 oleh para
mahasiswa Sekolah Kedokteran (STOVIA) di Jakarta, yaitu Sutomo, Suraji, Gunawan
Mangunkusumo. Budi Utomo (BU) ini sejak awal sudah menetapkan bidang pendidikan
sebagai pusat perhatiannya, dengan wilayah Jawa dan Madura sebagai sasaran. Pro
dan kontra selalu mewarnai dalam kehidupan berorganisasi, tak terkecuali BU.
Yang kontra mendirikan organisasi tandingan Regent Bond, yang
anggota-anggotanya berasal dari kalangan bupati penganut status quo yang tidak
menginginkan perubahan. Sedang yang pro, antara lain Tirto Kusumo, merupakan
kalangan muda yang berpikiran maju.
Pada kongres BU yang diselenggarakan pada 3-5 Oktober 1908,
Tirto Kusumo diangkat menjadi Ketua Pengurus Besar. Dalam kongres ini
etnonasionalisasi semakin bertambah besar. Selain itu, dalam kongres tersebut
juga timbul dua kelompok, yaitu kelompok pertama diwakili olah golongan pemuda
yang merupakan minoritas yang cenderung menempuh jalan politik dalam menghadapi
pemerintah kolonial. Adapun kelompok kedua merupakan golongan mayoritas
diwakili oleh golongan tua yang menempuh perjuangan dengan cara lama, yaitu
sosiokultural.
Golongan minoritas yang berpandangan maju dalam organisasi
ini dipelopori oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo. Dia ingin Budi Utomo bukan hanya
sebagai organisasi yang mementingkan rakyat, melainkan organisasi yang memiliki
jaringan di seluruh Indonesia. Sementara itu, golongan tua menginginkan
dibentuknya Dewan Pimpinan yang didominasi oleh golongan tua. Golongan ini juga
mendukung pendidikan yang luas bagi kaum priyayi dan mendorong kegiatan
pengusaha Jawa. Tjipto terpilih sebagai salah satu anggota dewan. Namun, pada
1909 ia mengundurkan diri dan bergabung dengan Indische Partiij.
2. Sarekat Islam
Organisasi ini mulanya merupakan perkumpulan para pedagang
muslim yang dirintis oleh H. Samanhudi dan R.M. Tirtoadisuryo tahun 1909.
Tujuannya untuk melindungi hakhak para pedagang muslim dari monopoli
pedagang-pedagang besar Cina. Pada tahun 1911, Haji Samanhudi mendirikan
Sarekat Dagang Islam untuk menghimpun pedagang muslim agar mampu bersaing
dengan pedagang dari Arab, India, dan Cina. Tujuan gerakannya adalah
meningkatkan perekonomian anggotanya.
Organisasi ini kemudian berkembang ke arah politik setelah
dipegang oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto dan berganti nama menjadi Sarekat
Islam. Penindasan-penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial tidak
luput dari perjuangan organisasi ini, apalagi jumlah anggotanya sangat besar.
Tujuan gerakan ini antara lain memajukan rakyat dengan cara persaudaraan dan
tolong-menolong sesama muslim. Pemerintah akhirnya memberikan kekuatan hukum
tahun 1916, sehingga SI bisa mengirimkan anggotanya ke Volksraad.
Sarekat Islam berubah lebih radikal setelah disusupi paham
sosialis yang dibawa oleh Sneevliet (pendiri Indische Sosialistische Demokratische
Vereeniging atau ISDV). Selain menyebarkan paham sosialis juga terang-terangan
menentang kebijakan Tjokroaminoto. Akhirnya, organisasi ini pecah menjadi dua,
yaitu SI Putih di bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto (Islam) dan SI Merah di
bawah Semaun (Sosialis Komunis).
3. Indische Partij
Inilah organisasi kaum Indo pertama yang menanamkan
kesadaran kebangsaan Indonesia. Organisasi yang dirintis oleh Douwes Dekker,
bertujuan menghapuskan kolonialisme dan eksploitasi Belanda atas rakyat Hindia
Belanda. Pada tahun 1912, ia mengajak Suwardi Suryaningrat dan Cipto
Mangunkusumo untuk mengembangkan organisasi. Sebagai organisasi yang berhaluan
nasionalis, anggotanya berlatar belakang lintas etnis dan budaya. Oleh karena
itu, semboyan organisasi ini adalah Hindia untuk bangsa Hindia.
Indische Partij adalah partai politik pertama yang
terang-terangan menuntut kemerdekaan Indonesia. Pada saat Belanda memperingati
100 tahun kemerdekaannya dari Prancis, Suwardi Suryaningrat menulis artikel
yang berjudul Als Ik een Nederlander was atau Seandainya Saya Seorang Belanda.
Tulisan ini berisi kritikan terhadap pemerintah Belanda atas rencana
pengumpulan dana bagi peringatan tersebut. Akhirnya, pada tahun 1913 Indische
Partij dinyatakan sebagai organisasi terlarang dan para tokohnya menyebar ke
berbagai organisasi.
4. Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang bertujuan
memurnikan pelaksanaan ajaran agama Islam. Didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan
tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta. Gerak dakwah organisasi ini adalah
memajukan pengajaran dan kesejahteraan para anggotanya dengan cara mendirikan
sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Pada tahun 1914, organisasi ini
mendapat pengakuan dari pemerintah dan mendapat sambutan dari rakyat.
Dalam waktu yang singkat, Muhammadiyah mampu mendirikan
cabangnya di Padang, Makassar, Bandung, Jakarta, dan kotakota besar di
Indonesia. Jumlah anggotanya pun juga dengan cepat bertambah. Bahkan,
organisasi ini juga ikut terlibat dalam perjuangan meraih kemerdekaan
Indonesia.
5. Perhimpunan Indonesia
Organisasi inilah sesungguhnya yang meletakkan dasar-dasar
nasionalisme Indonesia. Semula, organisasi yang berdiri tahun 1908 ini bernama
Indische Vereeniging, bersifat moderat. Kedatangan para tokoh eks Indische
Partij ke Belanda tahun 1913 mampu memompa semangat para mahasiswa Indonesia di
Belanda. Iwa Kusumasumantri menjadi ketua dan menyatakan tiga prinsip
organisasi. Pertama, Indonesia menentukan nasibnya sendiri. Kedua, kemampuan
dan kekuatan sendiri. Ketiga, persatuan dalam menghadapi Belanda. Pada tahun
1925, berubah menjadi Perhimpunan Indonesia dan semakin aktif di dalam
menghadapi kolonialisme, antara lain dengan mengikuti Kongres Liga Demokrasi
Perdamaian Internasional di Paris tahun 1926. Pada tahun 1927, PI menghadiri
Liga Antikolonial di Brussels. Nazir Datuk Pamuntjak menyampaikan pidato
berjudul Indonesia en der Vrijheidstrijd.
Pada tahun 1925, PI mengeluarkan manifesto politik yang
isinya sebagai berikut. Pertama, kesatuan nasional yaitu untuk mendirikan
negara kebangsaan Indonesia yang merdeka dan bersatu maka segala perbedaan
etnis primordial harus ditiadakan. Kedua, solidaritas yaitu menyamakan persepsi
dan menghilangkan perbedaan untuk menghadapi kolonialisme. Ketiga, nonkooperasi
yaitu kesadaran bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah sukarela tetapi harus dicapai
dengan perjuangan. Keempat, swasembada yaitu mengandalkan kekuatan sendiri
untuk membangun kehidupan bangsa agar sejajar dengan bangsa kolonial. Keempat
ideologi tersebut mampu membuka jalan bagi lahir dan berkembangnya nasionalisme
Indonesia. Apalagi para mahasiswa kita di negeri Belanda juga mengetahui adanya
Wilson 14 point yang antara lain berisi kemerdekaan untuk menentukan nasib
bangsa sendiri.
6. Partai Nasional Indonesia
Tokoh utama partai ini adalah Ir. Soekarno. Organisasi ini
didirikan tanggal 4 Juli 1927 oleh para mahasiswa yang sedang melaksanakan
studi di Bandung dan semakin populer setelah PKI dilarang oleh pemerintah.
Tujuan gerakannya adalah kemerdekaan Indonesia, oleh karena itu sifatnya
radikal. Salah satu metode yang diterapkan oleh partai ini adalah rapat-rapat
akbar. Dengan cara ini maka rakyat bisa mengikuti pendidikan politik secara
langsung dari para pemimpinnya.
Akibat perlawanannya dengan pemerintah, banyak para tokohnya
yang ditangkap oleh pemerintah dan dipenjara atau dibuang ke berbagai daerah.
Dalam pidato pembelaannya di Landraad atau pengadilan negeri Bandung, Ir.
Soekarno menyampaikan pidato yang berjudul Indonesia Klaagt Aan atau yang
dikenal dengan Indonesia Menggugat. Pidato ini oleh banyak pengamat disebut
sebagai tesis Bung Karno tentang kolonialisme. Namun, pembelaan itu tidak bisa
menghindarkannya dari penjara selama 4 tahun.
Itulah beberapa organisasi yang muncul karena rasa
nasionalisme Indonesia, setiap organisasi memiliki perbedaan yakni terdapat
organisasi yang berlandaskan agama, wilayah, maupun ekonomi dan pendidikan.
Masih banyak lagi organisasi yang muncul sebelum kemerdekaan Republik
Indonesia.
Setelah bermunculnya organisasi-organisasi tersebut secara
tidak langsung ikut serta berjuang dan memberi kontribusi bagi bangsa Indonesia
sehingga tercapailah kemerdekaan Indonesia. Kita juga perlu mengetahui bangsa
Indonesia masih berjuang demi tegaknya Negara Indonesia yang berdaulat.
Perjuangan pendahulu kita paska kemerdekaan Republik Indonesia sangatlah berat.
Perjuangan bangsa Indonesia paska kemerdekaan Republik Indonesia berupa konflik
dengan penjajah Belanda yang masih mempunyai keinginan menguasai Indonesia
Bersambung...

No comments:
Post a Comment